Pada awal pembelajaran, guru
memfasilitasi dengan aktivitas di mana siswa untuk pertama kali belajar dengan
mengamati, dengan menggunakan indera dan juga pikirannya. Bentuk aktivitas
dapat berupa problem/masalah, alat peraga, kasus, contoh dan bukan contoh, dan
lain sebagainya. Selanjutnya, siswa akan bertanya-tanya (baik mandiri maupun
dibimbing oleh guru), mengenai apa yang belum dipahami, apa yang perlu dicari,
bagaimana cara mencarinya, alternatif apa yang dapat dilakukan, bagaimana
melakukannya, dsb.
A.
Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan belajar bertitik tolak pada aspek psikologis
dilihat dari pertumbuhan dan perkembangan anak, kemampuan intelektual, dan
kemampuan lainnya yang mendukung kemampuan belajar. Pendekatan dilakukan
sebagai strategi yang dipandang tepat untuk memudahkan siswa memahami pelajaran
dan juga belajar menyenangkan.
Pendekatan pembelajaran tentu tidak kaku harus menggunakan
pendekatan tertentu, tetapi sifatnya dan terencana, artinya memilih pendekatan
di sesuaikan kebutuhan materi ajar yang dituangkan dalam perencanaan
pembelajaran.
Pendekatan
adalah pola/cara berpikir atau dasar pandangan terhadap sesuatu. Pendekatan
dapat diimplementasikan dalam sejumlah strategi. Sedangkan, srategi adalah pola
umum perbuatan guru-siswa di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar.
Pendekatan
adalah titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran atau
merupakan gambaran pola umum perbuatan guru dan peserta didik di dalam
perwujudan kegiatan pembelajaran.
B.
Pengorganisasian Siswa
1. Pembelajaran
secara individual
Pembelajaran secara individual adalah kegiatan mengajar guru
yang menitikberatkan pada bantuan dan bimbingan masing-masing kepadan individu.
guru memberikan bantuan pada masing-masing pribadi. Ciri-ciri yang menonjol
pada pembelajaran individual dapat ditinjau dari segi (i) tujuan pengajaran,
(ii) siswa sebagai subjek yang belajar, (iii)guru sebagai pembelajar (iv)
program pembelajaran, serta orientasi dan tekanan utama dalam pelaksanaan
pembelajaran.
a. Tujuan
pengajaran pada pembelajaran secara individual
Perilaku
belajar-mengajar disekolah yang menganut sisem klasikal tampak serupa. Dalam
kelas terdapa siswa yang rata-rata berjumlah empat puluh orang. Guru membantu
siswa yang menghadapi kesuksaraan. adapun tujuan dari pengajaran yang menonjol
adalah:
(1)
memberi kesempatan dan keleluasaan siswa untuk belajar berdasarkan kemampuan
sendiri. (2) pengenmabngan kemampuan tiap individu secara optimal.
b. Siswa
dalam pembelajaran secara individual
Kedudukan
siswa dalam pembelajaran individual bersifat sentral. Pembelajaran merupakan
pusat layanan pengajaran. Siswa memiliki keleluasaan berupa:
(i) Menggunakan waktu belajar berdasarkan
kemampuan sendiri.
(ii) Bebasan
menggunakan waktu belajar, dalam hal ini siswa bertanggung jawab atas semua
kegiatan yang dilakukannya.
(iii) Keleluasaan
dalam mengontrol kegiatan, kecepatan dan identitas belajar, dalam rangka
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
(iv)
Siswa melakukan penilaian sendiri atas hasil belajar.
(v) Siswa dapat mengetahui kemampuan dan hasil
belajar sendiri.
(vi)
Siswa memiliki kesempatan untuk menyusun program belajarnya sendiri.
c. Guru
dalam pembelajaran secara individual
Peran
guru dalam pengorganisasian kegiatan belajar adalah mengatur dan memonitor
kegiatan belajar dari awal sampai akhir. peranan guru sebagai berikut:
(i)
Memberikan orientasi umum sehubungan belajar topik tertentu
(ii)
Membuat variasi kegiatan belajar agar tidak terjadi kebosanan
(iii)
Mengkordinasikan kegiatan dengan memperhatikan kemajuan, materi, media, dan
sumber (iv) Memberi perhatian kesejumlah pebelajar menurut tugas dan kebutuhan
pebelajar
(v)
Memberikan baikan terhadap setiap pebelajar
(iv)
Mengakhiri kegiatan hasil belajar dalam suatu ujuk hasil belajar berupa laporan
atau pameran hasil kerja. Untuk kerja hasil belajar tersebut umumnya diakhiri
dengan evaluasi kemajuan belajar.
d. Program
pembelajaran dalam pembelajaran individual
Program
pembelajaran individual merupakan usaha memperbaiki kelemahan pengajaran
klasikal. Dari segi kebutuhan pelajar, program pembelajaran individual lebih
efektif, sebab siswa belajar sesuai dengan programnya sendiri. Dari segi guru,
yang terkait dengan jumlah pelajar tampak kurang efisien.
Program
pembelajaran individual dapat dilakukan secara selektif, bila mempertimbangkan
hal-hal berikut:
(i)
Disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa
(ii)
Tujuan pembelajaran dibuat dengan kebutuhan dan kemampuan siswa
(iii)
Produser dan cara kerja dimengeri oleh siswa
(iv)
Krieria keberhasilan dimengerti oleh siswa
(v)
Keterlibatan guru dalam evaluasi dimengertti oleh siswa.
e. Orientasi
dan tekanan utama pelaksanaan
Program
pembelajaran individual berorientasi pada pemberian bantuan kepada setiap siswa
agar ia dapat belajar secara mandiri, kemandirian belajar tersebut merupakan
tuntutan perkembangan individu. Dalam pelaksanaan ini guru berperan sebagai
fasilitator, pembimbing, pendiagnosis kesukaran belajar dan rekan diskusi. Guru
berperan sebagai guru pendidik bukan instruksi.
2. Pembelajaran secara
kelompok
Dalam
kegiatan belajar-mengajar dikelas adakalanya guru membentuk kelompok kecil
kelompok tersebut umumnya terdiri dari 3-8 orang. Dalam kelompok kecil guru
memberikan bantuan atau bimbingan tiap anggota kelompoklebih intensif. Hal ini
dapat terjadi, sebab:
(i) Hubungan antar
guru-siswa menjadi lebih sehat dan akrab
(ii) Siswa memperoleh bantuan, kesempatan, sesuai dengan
kebutuhan, kemampuan dan minat (iii) Siswa dilibatkan dalam penentuan tujuan
belajar, cara belajar, kriteria keberhasilan.
Ciri-ciri
yang menonjol pada pembelajaran secara kelompok dapat ditinjau dari segi:
(i) tujuan
pengajaran,
(ii) pembelajar,
(iii) guru sebagai pembelajar,
(iv) program pembelajara dan
(v) orientasi Dan tekanan utama pelaksanaan pembelajaran
3. Pembelajaran secara
klasikal
Pembelajaran
klasikal merupakan kemampuan guru yang utama, hal itu disebabkan oleh
pengajaran klasikal merupakan kegiatan mengajar yang tergolong efisien. Secara
ekonomis pembiayaan kelas lebih murah. Oleh karena itu ada jumlah minuman siswa
dalam kelas. Jumlah siswa pada umumnya berkisar dari 10-45 orang, dengan jumlah
tersebut seorang guru membelajarkan siswa secara berhasil. Pembelajaran kelas
berarti melaksanakan dua kegiatan sekaligus, yaitu:
(i) Pengelolaan
kelas,
(ii) Pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan kelas adalah
penciptaan kondisi yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan belajar dengan
baik.
Dalam
pengelolaan kelas dapat terjadi masalah yang bersumber dari.
(i) Kondisi tempat belajar, dan
(ii) Siswa yang terlibat dalam belajar. Sedangkan masalah
siswa dapat berupa masalah individual atau kelompok. Gangguan belajar dikelas
dapat berasal dari seorang siswa atau sekelompok siswa. Sudah tentu guru
dituntut berketerampilan mengatasi gangguan belajar siswa. Dalam hal ini, guru
dapat menggunakan teknik-teknik penguatan agar keterlibatan belajar terwujud.
Pengelolaan
pembelajaran bertujuan mencapai tujuan belajar. Peran guru dalam pembelajaran
secara individual dan kelompok kecil berlaku dalam pembelajaran secara
klasikal. Tekanan utama pembelajaran adalah seluruh anggota kelas disamping
penyususnan desain instruksional yang dibuat, maka pembelajaran kelas dapat
dilakukan dengan tindakan sebagai berikut;
(i) Penciptaan tertib dikelas
(ii) Penciptaan suasana senang dalam belajar
(iii) Pemusatan perhatian pada bahan ajar dan
(iv) Mengikutsertakan siswa agar belajar aktif
(v) Pengorganisasian sesuai dengan kondisi siswa.
Dalam
pembelajaran kelas, guru dapat mengajar seorang diri atau bertindak sebagai tim
pembelajar. Bila guru menjadi tim pembelajar maka asas tim pembelajar harus
dipatuhi. Tim pembelajar perlu menyusun desain pembelajaran kelas secara baik.
C. Kemampuan yang Akan
Dicapai dalam Pembelajaran
Siswa
yang belajar akan mengalami perubahan. Bila sebelum belajar, kemampuannya hanya
25% misalnya, maka setelah belajar selama lima bulan akan menjadi 100%. Hasil
belajar terebut meningkatkan kemampuan mental. Kemampuan yang dicapai dalam
pembelajaran adalah tujuan pembelajaran. Ada kesenjangan antara kemampuan
pra-belajar dengan kemampuan yang akan dicapai. Kesenjangan terebut dapat
diatsi berkat belajar bahan ajar tertentu.
Pembelajaran tersebut
menghasilkan suatu kegiatan belajar. Bagi siswa, kegiatan belajar berarti
menggunakan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor untuk mencerna bahan
ajar. Secara umum kegiatan belajar tersebut meliputi fase-fase:
(i) Motivasi,
yang berarti siswa sadar mencapai tujuan dan bertindak mencapai tujuan belajar
(ii) Kosentrasi berarti siswa memusatkan perhatian
pada bahan ajar,
(iii) Mengolah pesan, yang berarti siswa mengolah
informasi dan mengambil makna tentang apa yang dipelajari,
(iv) menyimpan, yang berarti siswa menyimpan dalam
ingatan, perasaan, dan kemampuaan motoriknya,
(v) menggali, menggunakan hal yang dipelajari yang
akan dipergunakan untuk suatu pemecahan-pemecahan,
(vi) Prestasi,
dalam arti menggunakan bahan ajar untuk unjuk kerja, dan
(vii) Umpan balik, dalam arti siswa melakukan
pembenaran tentang hasil belajar atau prestasinya.
Kegiatan belajar di
sekolah, menurut Biggs dan Telfer, pada umumnya dapat dibedakan menjadi empat
hal berkenaan dengan:
(i) Belajar yang kognitif seperti pemerolehan Pengetahuan,
(ii) Belajar yang efektif seperti belajar tentang
perasaan, nilai-nilai, dan emosi,
(iii) Belajar
yang berkenaan dengan isi ajaran, seperti yang sudah ditentukan dalam silabus semacam
pokok-pokok bahasan, dan
(iv) Belajar yang berkenaan dengan proses, seperti
bagaimana suatu hasil dapat diperoleh. Keempat
jenis belajar tersebut merupakan target sekolah dan dapat digolongkan menjadi
tujuan yang akan dicapai atau ranah yang akan dikembangkan.
D. Pengolahan
Pesan
1. Pengolahan
Pesan Secara Deduktif
Secara
singkat dapat dikatakan bahwa pengolahan pesan secara deduktif dimulai dengan:
(i) Guru mengemukan generalisasi
(ii) Penjelasan brkenaan dengan konsep-konsep, dan
(iii) Pencarian data yang dilakukan oleh siswa.
Pengumuman
data tersebut berguna untuk menguji kebenaran generalisasi. Dalam kegiatan ini
siswa juga mengaplikasikan konsep terhadap data tertentu.
2. Pengolahan
Pesan Secara Induktif
Pengolahan
pesan secara induktif bermula dari:
(i) Fakta
atau peristiwa khusus,
(ii) Penyusunan konsep berdasarkan fakta-fakta,
(iii) Penyusunan
generalisasi berdasarkan konsep-konsep. Bila sudah ada teori yang benar, pada
umumnya dirumuskan hipotesis,
(iv) Terapan generalisasi pada data baru, atau uji
hipotesis, kemudian
(v) Penarikan kesimpulan lanjut.
Sumber:
https://www.padamu.net/pengertian-pendekatan-dan-strategi-pembelajaran
https://www.padamu.net/pengertian-pendekatan-dan-strategi-pembelajaran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar