Rabu, 09 Januari 2019

PERKEMBANGAN MORAL DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN


    Di dalam pelaksanaan pembelajaran guru harus memahami peserta didik.Aspek-aspek yang terkait dengan peserta didik salah satunya diantaranya berkenaan dengan pemahaman perkembangan fisik dan psikis.Dengan memahami perkembangan terhadap moral peserta didik,maka guru dapat mengeskplorasi,memilih dan menentukan bahan belajar,strategi pembelajaran,model-model pemberian motivasi serta mewujudkan proses pembelajaran yang efektif.
      Di dalam bab ini membahas perkembangn moral serta implementasi dalam pembelajaran di dalam kelas .Pembahasan bab ini perkembangan moral.antara teori jean piaget,teori perkembangan moral Kohlberg,pandangan Psikologi Sosial Erik H.Erikson dan implementasinya keterpaduan teori-teori di bahas dalam bab ini.

A. Teori Perkembangan Jean Piaget

Dalam proses pembelajaran guru sering kali dihadapkan dengan berbagai dinamika mengenai perkembangan peserta didik.Perubahan-perubahan dari peserta didik ini harus mendapatkan perhatian dari guru,karena guru bisa memilih strategi yang sesuai dengan karakteristik peserta didik yang terlibat dalam proses pembelajaran.
Dalam teorinya, piaget mengungkapkan bahwa secara umum semua anak berkembang melalui urutan yang sama, meskipun jenis dan tingkat pengalaman mereka berbeda. Semua perubahan yang terjadi pada setiap tahap tersebut merupakan kondisi yang diperlukan untuk mengubah perkembangan moral berikutnya.
Berkaitan dengan perkembangan moral, piaget mengemukakan dua tahap perkembangan yang dialami oleh setiap individu. Tahap pertama disebut “Heterenomous” atau tahap “ Realisme moral” dalam tahap ini seorang anak cenderung menerima aturan begitu saja. Tahap kedua disebut “Autonomous morality” atau “Independensi moral” dalam tahap ini seorang anak memandang perlu untuk memodifikasi aturan – aturan swesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
Dalam pandangan piaget tahap – tahap kognitif mempunyai kaitan yang sangat kuat dengan empat karakteristik berikut
1.      Setiap anak pada usia berbeda menempatkan cara –cara yang berbeda secara kualitatif, dalam hal memecahkan masalah
2.      Perbedaan cara berfikir antara anak satu dengan yang lain sering kali dapat dilihat dari cara mereka  menyusun kerangka berfikir yang saling berbeda.
3.      Masing – masing cara berfikir akan membentuk satu kesatuan yang terstruktur.
4.      Tiap – tiap urutan dari tahap kognitif pada dasarnya merupakan suatu integrasi hirearkis dari apa yang dialami sebelumnya.
Seperti dikemukakan sebalumnya piaget mencoba mengkaji tingkahlaku anak melalui aktifitas bermainnya, karena Ia ingin menguji bagaimana anak –anak dapat berfikir secara sepontan, dan bagaimana anak –anak menyesuaikan konsepnya terhadap berbagai tata aturan.
Dari hasil penelitiannya piaget mengetahui anak – anak yang lebih muda usianya cenderung menilai suatu tindakan berdasarkan konsekuensi dan akibat materialnya.
Kesimpulan mendasar dari hasil pengamatan piaget adalah bahwa dapat diambil terdapat pola –pola yang konsisten pada prilaku anak yang bergerak pada satu tahap ketahap berikutnya.

B. Teori perkembangan moral Kohlberg

            Dalam upaya mengembangkan aspek afeksi siswa melalui pembelajaran murray dalam sebuah overviewnya mengemukakan bahwa menurut Kohlberg pendekatan yang baik yang harus dilakukan untuk memahami prilaku moral yang harus didasari pemahaman tentang tahap –tahap perkembangan moral. Tujuan pendidikan moral adalah untuk mendorong individu – individu guna mencapai tahapan – tahapan perkembangan moral selanjutnya. Dalam keadaan itu pendidikan moral harus memperhatikan kepribadian secara menyeluruh, khususnya berkaitan dengan interaksi kita dengan oranglain, prilaku atau etika kita. (manan, 1995 :8).
            Searah dengan piaget, Kohlberg bahwa para remaja menerapkan struktur kognitif moral mereka pada dilema moral. Dengan demikian menemukan bahwa : 1) penelitian dan perbuatan moral pada intinya bersifat rasional, 2) terdapat sejumlah tahap pertimbangan moral yang sesuai dengan piaget, 3) penelitian yang membenarkan piaget bahwa sekitar usia 16 tahun, pada masa remaja merupakan tahap tertinggi dalam proses tercapainya pertimbangan moral.

1. Pre-Conventional Level
   
Pada level ini anak- anak memberikan respon terhadap aturan –aturan kebiasaan, baik dan buruk, benar atau salah, tetapi interprepretasi ini mereka terjemahkan menurut taraf pemikiran mereka sendiri atau konsekuensi kesenangan dan ketidak senangan mereka terhadap tindakan tertentu (hukuman, reword, ganjaran kebaikan) atau dalam batas kekuasaan fisik dari orang –orang yang menetapkan aturan atau label tersebut.

Tahap 1: The Punishment and Obedience orientation (orientasi pada hukuman dan 
kepatuhan)
            Pada tahap ini biasanya prilaku baik yang muncul pada anak –anak bukan tumbuh sebagai suatu kesadaran akan kebaikan tersebut, akan tetapi hal itu muncul karena konsekuensi tertentu bilaman mereka melakukan atau tidak melakukan sesuatu tindakan tersebut
            Tahap 2: The Instrumental Relativist Orientation
            Pada tahap ini pandangan terhadap perbuatan yang benar adalah perbuatan yang secara instrumental memuaskan kebutuhan dirinya dan kadang –kadang kebutuhan orang lain.


2. Conventional Level

            Pada level ini telah tumbuh kesadaran dan penghargaan terhadap individu lain, keluarga, kelompok atau Negara dan hal – hal tersebut dianggap memiliki nilai bagi dirinya. Tahap ini lebih memberikan penekanan kepada usaha aktif untuk mengidentifikasikan diri dengan pribadi –pribadi atau kelompok lain yang ada disekitarnya.
            Tahap 3: The Interpersonal Concordance of “Good Boy – Nice Girl” Orientation
(orientasi anak manis).
            Pada tahap ini prilaku yang baik diartikan sebagai prilaku yang menyenangkan atau yang dapat membantu orang lain dan disetujui oleh mereka.
Tahap 4: The low and Order Orientation (orientasi pada perintah dan hukum)
Pada tahap ini tindakan seseorang lebih banyak berorientasi pada otoritas, aturan –aturan yang pasti dan pemeliharaan tata aturan sosial.

3. Past-Conventional, Autonomus, or Principled Level

            Pada level ini sudah ada usaha kongkrit dalam diri seseorang untuk menentukan nilai – nilai atau prinsip – prinsip moral yang dianggap memiliki validitas yang diwujudkan tanpa harus mengkaitkannya dengan otoritas kelompok atau pribadi –pribadi yang mendukung prinsip – prinsip tersebut, sekaligus terlepas dari identifikasi seseorang terhadap kelompok.
            Tahap 5: The Social contract Legalistic Orientation (orientasi kontrak sosial legalistik)
            Dalam tahap ini perbuatan yang benar didefinisikan sebagai kebenaran individual secara umum dalam ukuran – ukuran yang standar yang telah diuji secara kritis dan disepakati oleh seluruh masyarakat.
            Tahap 6: The Universal Ethical Principle Orientation
            Pada tahap ini, apa yang secara moral dipandang benar harus dibatasi oleh hukum – hukum  atau aturan – aturan sosial, akan tetapi lebih dibatasi oleh kata hati dan kesadaran menurut prinsip – prinsip etik.
            Teori yang dikemukakan oleh Kohlberg tidak terlepas dari kritik. Yang paling banyak mendapatkan sorotan adalah pandangannya yang memberikan tempat istimewa terhadap keadilan, sebagai tingkatan tertinggi atau tahap tertinggi dari konsep perkembangannya.berdasarkan kritikan – kritikan yang muncul akhirnya mendorong Kohlberg untuk merevisi konsep tahap –tahapnya (dari tahap keenam kelima), dan sekaligus meninjau kembali kecenderungan untuk menempatkan keadilan sebagai prinsip tertinggi.


C. Pandangan Psikologi Sosial Etik H.Erikson

          Sepintas dapat dikemukakan bahwa Erik H.Erikson adalah salah satu dari kelompok Neo-Ferdian,dimana mereka yang bertitik tolak dari kerangka pemikiran psikoanalisa Freud.
Mengenai tahap – tahap perkembangan psikososial ini Erikson mengemukakan adanya delapan tahap perkembangan, yaitu:

1.      Trust vs Mistrust

Tahapan pertama ini berkaitan dengan persoalan apa yang patut dipercaya (Trust) dan apa yang tidak dapat dipercaya (Mistrust).
Seorang bayi akan dapat mengerti dunia sekitarnya melalui perasaannya, dan akan dapat mersakan makanannya melalui lidahnya. Trust dalam hubungan ini diartikan sebagai suatu kesesuaian antara kebutuhan – kebutuhan bayi dengan sekitarnya.
Berkaitan dengan mistrust, Erikson tidak melihat bahwa setiap tahap merupakan kunci untuk menguasai secara penuh kualitas sosial pada tahap berikutnya. Erikson membatasi Mistrust sebagai kesiapan terhadap kemungkinan bahaya, ancaman, atas suatu antisipasi terhadap keadaan yang tidak menyenangkan.
Dari apa yang di kemukakan di atas nampak bahwa  Erikson lebih cendering mengembangkan suatu orientasi terhadap sifat dasar manusia.

2.        Aountonomy vs doubt

Menurut Erikson tiap –tiap tahap dalam perkembangan seseorang distrukturkan melalui cara –cara yang sama.
Dalam tahap kedua ini Erikson mengidealisasikan tumbuhnya sifat –sifat positif (auntonomi) dan sifat – sitaf negative (doubt) secara bersama –sama. Dalam hubungan ini Erikson melihat bahwa pertumbuhan Auntonomi pada dasarnya memerlukan pengembangan rasa kepercayaan diri. Kendati demikian satu hal yang patut untuk deperhatikan bahwa auntonomi yang berlebihan dapat membahayakan.

3.        Initiative vs guilt

Dalam pandangan Erikson konflik yang paling menonjol ditahap ketiga ini adalah perkembangan suatu initiative terhadap satu sasaran atau tujuan, dan kemungkinan tumbuhnya guilt dalam upayanya untuk mencapai sasaran atau tujuan yang lain.

4.      Industry vs Inferiority

Tahap keempat adalah tahap dimana anak –anak mulai mampu menggunakan cara berfikir deduktif, disamping tumbuhnya kemauan untuk mau belajar mematuhi aturan – aturan.  
        Tahap industry vs inferiority ini meliputi dua kutub ekstrim,yaitu sense of industry dan sense of inferiority.

5. Identity vs role confusion

      Erikson memperluas konsep yang dikemukakan oleh Freud dimana proses identitas diri akan tumbuh dalam diri anak pada saat mereka sudah memasuki tahap phallic(sekitar usia 4-6 tahun)dimana pada saat itu anak-anak akan memperoleh kepuasan atau kekuasaan dengan jalan mengimijinasikan hubungan yang erat antara dirinya dengan orang tua atau orang lain yang mempunyai kelamin sejenis.

6. Intimacy vs Isolation

     Menurut Ericson konflik yang paling menonjol di tahap enam adalah intimacy di satu pihak dan isolation di pihak lain.Dalam periode ini tali persahabatan mulai dikembangkan dengan kuat, bahkan pengikatan hubungan dalam tali perkawinan mulai memperoleh tempat.

7. Generativity vs. self –absorption

  Setelah memasuki hubungan perkawinan,kemudian membangun rumah tangga maka akan mengalami konflik masalah partumbuhan  dan kemandengan.

8. Integrity vs. despair

Dimensi psikososial yang mencerminkan tercapainya kematangan konflik antara integrity dengan despair .Ketidakmampuan menguasai salah satu konflik tersebut di atas, sudah cukup untuk mengakibatkan kegagalan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi seseorang

D. Memadukan Pandangan Kohlberg,Piaget,dan Ericson

   Teori Jean Piaget mengatakan bahwa semua anak akan berkembang melalui urutan-urutan yang sama tanpa harus bergantung pada tingkat pengalaman,kondisi keluarga bahkan kebudayan cenderung merupakan kesimpulan yang kurang proposional.Sedangkan Erik H. Erikson yang melihat bahwa perkembangan tiap-tiap tahap harus didukung oleh pranata-pranata budaya yang kuat,utamanya oleh orang tua dan berikutnya oleh berbagai unsur kemasyarakatan.Menurut Kolhberg perkembangan moral anak lebih didominasi oleh perhatianya  pada factor-faktor di dalam individu sendiri dan kurang melihat pentingnya faktro-faktor lingkungan dan sosial ,serta sama sekali meniadakan factor-faktor positif bawaanyang ada pada anak.
     Teori perkembangan dan pertimbangan moral menurut piaget,kolhberg,maupun piaget dapat dijadikan sebagai pengetahuan dalam membuka pemahaman awal terhadap perkembangan moral.Walaupun terdapa perbedaan pandangan dan kekurangan dari masing-masing teori tersebut.

 E. Implementasi Keterpaduan dalam Pembelajaran

Beberapa teori atau pandangan yang dikemukakan sebelumnya memberikan inspirasi tentang perkembangan dan eksisitensi siswa,pemilihan bahan pembelajaran dan strategi pembelajaran dalam mewujudkan pembelajaran yang optimal.Pemahaman peserta didik merupakan factor yang sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran.Dalam upaya – upaya pengembangan peserta didik agar mampu mngeaktualisasikan potensi-potensi yang dimilikinya merupakan tanggung jawab seluruh guru.Untuk terwujudnya iklim dan proses pembelajaran yang kondusif perlu didukung oleh berbagai factor,baik berkenana dengan kemampuan guru,misalnya di dalam memilih bahan ajar,sarana dan fasilitas pendukung serta yang tidak kalah pentingnya kesiapan dan motivasi siswa dalam hal belajar untuk mencapai hasi belajar yang optimal.


DAFTAR PUSTAKA
Aunurahman.Belajar Pembelajaran.2012.Bandung:Alfabeta
  Dimyati dan Mujiono(1994).Belajar dan Pembelajaran.Jakarta: Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Dikti

Sumber : Fadilah, Ainul. 2004. Perkembangan Moral dan Implementasinya dalam Pembelajaran. http://ainulfadilah.blogspot.com/2014/02/perkembangan-moral-dan-implementasinya.html. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar