PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang Masalah
Dalam
proses belajar mengajar terjadi sebuah komunikasi, yakni antara guru dengan
siswa. “Komunikasi merupakan suatu proses sosial yang sangat mendasar dan vital
dalam kehidupan manusia. Dikatakan mendasar karena setiap manusia, baik yang
primitif maupun yang modern, berkeinginan mempertahankan suatu persetujuan
mengenai berbagai aturan sosial melalui komunikasi. Dikatakan vital karena
setiap individu memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan individu-individu
lainnya sehingga meningkatkan kesempatan individu itu untuk tetap hidup”
(Rakhmat, 1998:1).
Dalam
setiap komunikasi, manusia saling menyampaikan informasi yang dapat berupa
pikiran, gagasan, maksud, perasaan, maupun emosi secara langsung. Kegiatan
komunikasi ini berlangsung dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, selama
manusia hidup dan selama melakukan aktivitasnya. Kalau kita mengamati sekitar
kita, kita akan melihat bahwa komunikasi merupakan aktivitas yang paling
penting dalam suatu kehidupan bermasyarakat. Bahkan dapat dipastikan, di mana
manusia hidup bersama-sama dengan orang lain maka di sana selalu ada kegiatan
komunikasi, karena komunikasi merupakan kebutuhan hidup manusia.
Komunikasi
dalam pembalajaran dewasa ini mendapatkan perhatian yang luar biasa. Hal ini
dilatarbelakangi pentingnya memilih cara komunikasi dalam proses pembelajaran
agar kegiatan tersebut mencapai tujuan secara efektif dan efesien. Komunikasi
yang efektif berkolerasi dengan tingkat keberhasilan pembelajaran
Kemampuan
untuk melakukan komunikasi yang efektif merupakan salah satu kompetensi
yang harus dimiliki dan dikuasai oleh seorang guru, hal ini sebagaimana
tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005,
tentang
Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, tentang standar
nasional pendidikan, serta peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas)
Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
Guru sebagai learning agent berkewajiban memiliki kualifikasi akademik yang
diperoleh melalui perguruan tinggi yang terakreditasi (S1/D4) dan memiliki 4
kompetensi. Salah satunya adalah kompetensi sosial, yakni kemampuan pendidik
sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul dengan peserta
didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua / wali peserta didik dan
masyarakat sekitar.
Strategi
membangun komunikasi dalam proses belajar mengajar merupakan salah satu hal
yang sangat penting untuk mewujudkan proses belajar mengajar yang efektif.
Karena, tanpa adanya komunikasi tidak mungkin peroses belajar mengajar
akan berjalan dengan lancar, karena komunikasi adalah Kunci utama untuk
berinteraksi antara guru dengan peserta didik. Komunikasi bukan berarti hanya
berintraksi dengan menggunakan bahasa lisan semata, akan tetapi komunikasi juga
bisa dilakukan dengan menggunakan bahasa tulis dan bahasa isyarat atau gerak
tubuh.
Selain
itu, sering dikatakan bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi
dimana terjadi proses penyampaian pesan tertentu dari sumber belajar (misalnya
guru, instruktur, media pembelajaran,dan lain-lain.) kepada penerima (peserta
belajar, murid, dan sebagainya), dengan tujuan agar pesan (berupa topik-topik
dalam mata pelajaran tertentu) dapat diterima (menjadi milik, di-shared) oleh
peserta didik / murid-murid. Dalam pembelajaran terjadi proses
komunikasi untuk menyampaikan pesan dari pendidik kepada peserta didik dengan
tujuan agar pesan dapat diterima dengan baik dan berpengaruh terhadap pemahaman
serta perubahan tingkah laku. Dengan demikian keberhasilan kegiatan pembelajaran
sangat tergantung kepada efektifitas proses komunikasi yang terjadi dalam
pembelajaran tersebut.
Pembelajaran
yang baik dan efektif akan memberikan ruang dan peluang agar anak dapat belajar
lebih aktif serta dapat mengeksplorasi keingintahuan melalui kemampuan /
potensi yang dimilikinya, dan hal ini memerlukan bantuan/bimbingan yang baik
dan tepat dari guru/pendidik dan disertai kearifan professional.
Melihat
betapa pentingnya komunikasi dalam proses belajar mengajar, maka dalam makalah
ini kami akan membahas mengenai komunikasi pembelajaran dan hal-hal yang
berkaitan dengan komunikasi pembelajaran.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa
pengertian komunikasi pembelajaran ?
2. Apa
fungsi komunikasi dalam pembelajaran ?
3. Apa
saja prinsip komunikasi dalam pembelajaran ?
1.3. Tujuan Penulisan
1. Untuk
mengetahui pengertian komunikasi pembelajaran.
2. Untuk
mengetahui fungsi komunikasi dalam pembelajaran.
3. Untuk
mengetahui prinsip komunikasi dalam pembelajaran.
BAB II
ISI
2.1 Pengertian Komunikasi
Menurut Hardjana, sebagaimana dikutip oleh Endang Lestari
G (2003) secara etimologis komunikasi berasal dari bahasa Latin
yaitu cum, sebuah kata depan yang artinya dengan, atau bersama
dengan, dan kata umus, sebuah kata bilangan yang berarti satu. Dua
kata tersebut membentuk kata benda communio, yang dalam bahasa
Inggris disebut communion, yang mempunyai makna kebersamaan,
persatuan, persekutuan, gabungan, pergaulan, atau hubungan. Karena untuk ber-communio
diperlukan adanya usaha dan kerja, maka kata communion dibuat
kata kerja communicare yang berarti membagi sesuatu dengan
seseorang, tukar menukar, membicarakan sesuatu dengan orang, memberitahukan
sesuatu kepada seseorang, bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan, atau
berteman. Dengan demikian, komunikasi mempunyai makna pemberitahuan,
pembicaraan, percakapan, pertukaran pikiran atau hubungan.
Evertt M. Rogers mendefinisikan komunikasi sebagai proses
yang di dalamnya terdapat suatu gagasan yang dikirimkan
dari sumber kepada penerima dengan tujuan untuk merubah perilakunya. Pendapat
senada dikemukakan oleh Theodore Herbert, yang mengatakan bahwa komunikasi
merupakan proses yang di dalamnya menunjukkan arti pengetahuan dipindahkan dari
seseorang kepada orang lain, biasanya dengan maksud mencapai beberapa tujuan
khusus. Selain definisi yang telah disebutkan di atas, pemikir komunikasi yang
cukup terkenal yaitu Wilbur Schramm memiliki pengertian yang sedikit lebih
detail. Menurutnya, komunikasi merupakan tindakan melaksanakan kontak antara
pengirim dan penerima, dengan bantuan pesan; pengirim dan penerima memiliki
beberapa pengalaman bersama yang memberi arti pada pesan dan simbol yang
dikirim oleh pengirim, dan diterima serta ditafsirkan oleh penerima.
(Suranto : 2005).
Dari
beberapa definisi di atas dapat penulis pahami bahwa komunikasi adalahsuatu proses
penyampaian informasi. Kesuksesan komunikasi tergantung kepada desain pesan
atau informasi dan cara penyampaiannya.
2.2 Pengertian
Pembelajaran
Sardiman AM (2005) dalam bukunya yang
berjudul “Interaksi dan Motivasi dalam Belajar Mengajar” menyebut istilah
pembelajaran dengan interaksi edukatif. Menurut beliau, yang dianggap interaksi
edukatif adalah interaksi yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan
untuk mendidik, dalam rangka mengantar peserta didik ke arah kedewasaannya.
Menurut Corey (1986 :195)
pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja
dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam
kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu,
pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan.
Sedangkan menurut Dimyati dan Mujiono
(1999 :297) pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam
desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan
pada penyediaan sumber belajar.
UUSPN
No. 20 tahun 2003 menyatakan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik
dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Definisi ini
sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Oemar Hamalik, bahwa pembelajaran
adalah suatu proses yang kompleks, dimana di dalamnya terjadi interaksi antara
mengajar dan belajar. Proses pembelajaran aktivitasnya dalam bentuk interaksi
belajar mengajar dalam suasana interaksi edukatif, yaitu interaksi yang sadar
akan tujuan, artinya interaksi yang telah dicanangkan untuk suatu tujuan
pembelajaran yang telah dirumuskan pada satuan pelajaran.
Menurut
Knirk dan Gustafson (1986:15) pembelajaran merupakan suatu proses yang
sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pembelajaran
tidak terjadi seketika, melainkan sudah melalui tahapan perancangan
pembelajaran.
Dari
beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran adalah
proses interaksi edukatif untuk membuat siswa belajar secara aktif dan mampu
mengubah perilaku melalui pengalaman belajar.
2.3 Pengertian Komunikasi pembelajaran
Komunikasi
pembelajaran adalah proses penyampaian gagasan dari seseorang kepada orang lain
supaya mencapai keberhasilan dalam mengirim pesan kepada yang dituju secara
efektif dan efisien.
Dalam
kegiatan belajar mengajar, komunikasi antar pribadi merupakan suatu keharusan,
agar terjadi hubungan yang harmonis antara pengajar dengan peserta belajar.
Keefektifan komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar ini sangat tergantung
dari kedua belah pihak. Akan tetapi karena pengajar yang memegang kendali
kelas, maka tanggung jawab terjadinya komunikasi dalam kelas yang sehat dan
efektif terletak pada tangan pengajar. Keberhasilan pengajar dalam mengemban
tanggung jawab tersebut dipengaruhi oleh keterampilannya dalam melakukan
komunikasi ini. Terkait dengan proses pembelajaran, komunikasi dikatakan
efektif jika pesan yang dalam hal ini adalah materi pelajaran dapat diterima
dan dipahami, serta menimbulkan umpan balik yang positif.
Dilihat dari prosesnya, komunikasi
dibedakan atas komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal
adalah komunikasi dengan menggunakan bahasa, baik bahasa tulis maupun bahasa
lisan. Sedangkan komunikasi nonoverbal adalah komunikasi yang menggunakan
isyarat, gerak gerik, gambar, lambang, mimik muka, dan sejenisnya.
Sebagai komunikator atau mediator, guru
harus menyadari bahwa sekolah berada di tengah-tengah masyarakat, karenanya
sekolah tidak boleh menjadi “menara gading” yang jauh dan terasing dari
masyarakat. Sekolah
didirikan mengemban amanat dan aspirasi masyarakat (dan peserta didik adalah
anak-anak dan sekaligus sebagai bagian dari anggota komunitas masyarakat).
Menghindari
persoalan tersebut, maka guru harus memerankan dirinya untuk mampu menjadi
“bridging” (menjembatani) atau menjadi mediator antara sekolah dan masyarakat
melalui upaya cerdas dalam memilih dan menggunakan pola, pendekatan, strategi,
metode, dan teknik pembelajaran yang memungkinkan saling menguntungkan antara
keduanya. Jadikan masyarakat, lembaga, peristiwa, benda, situasi, kebudayaan,
serta industry sebagai sumber belajar bagi peserta didik.
2.4 Fungsi Komunikasi Pembelajaran
Menurut
Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson, Komunikasi mempunyai dua fungsi umum. Pertama, untuk
kelangsungan hidup diri-sendiri yang meliputi: keselamatan fisik, meningkatkan
kesadaran pribadi, menampilkan diri kita sendiri kepada orang lain dan mencapai
ambisi pribadi. Kedua, untuk kelangsungan hidup masyarakat,
tepatnya untuk memperbaiki hubungan sosial dan mengembangkan keberadaan suatu
masyarakat.
Sedangkan
menurut William I.Gordon, Komunikasi Pembelajaran mempunyai empat
fungsi menurut kerangka yang dikemukakan, yakni:
Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia akan
hilang, karena ia tidak punya waktu untuk mengatur diri mereka sendiri dalam
lingkungan sosial. Tanpa terlibat dalam komunikasi, seseorang tidak akan tahu
bagaimana makan, minum, berbicara sebagai manusia beradab (memperlakukan
manusia lainnya).
a. Pembentukan
Konsep Diri
Konsep diri adalah pandangan kita tentang siapa kita, dan
yang hanya dapat diperoleh melalui informasi orang lain yang diberikan kepada
kita. Manusia yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia lain mungkin tidak
menyadari bahwa ia adalah seorang laki-laki. Kita menyadari bahwa kita adalah
manusia karena orang di sekitar kita menunjukkan kepada kita melalui perilaku
mereka.
Anda mencintai diri sendiri jika Anda memiliki cinta, Anda
berpikir Anda pintar ketika orang di sekitar Anda mengaggap Anda cerdas, Anda
merasa Anda tampan atau cantik ketika orang di sekitar Anda mengatakan begitu.
Konsep diri awal umumnya dipengaruhi oleh keluarga dan
orang-orang terdekat di sekitar kita, termasuk kerabat. Orang tua kita, atau
siapa pun yang peduli untuk pertama kalinya, mengatakan kepada kita melalui
kata-kata dan tindakan yang kita lakukan.
b. Orang berkomunikasi
untuk menunjukkan dirinya eksis. Ini disebut aktualisasi diri atau lebih
tepatnya keberadaan itu sendiri.
Fungsi komunikasi sebagai eksistensi diri sering terlihat
dalam seminar. Meskipun penanya telah memperingatkan moderator untuk berbicara
singkat dan langsung ke pokok masalah, pena atau komentator sering berbicara
panjang lebar, mengajarkan penonton, dengan argumen yang tidak relavan. Karena
mereka merasa paling benar dan yang paling penting, semua orang ingin berbicara
dan didengar.
c. Untuk
Kelangsungan Hidup, Memupuk Hubungan, Dan Memperoleh Kebahagiaan
Sejak lahir, kita tidak bisa hidup sendiri untuk
mempertahankan hidup. Kita perlu berkomunikasi dengan orang lain, untuk
memenuhi kebutuhan biologis kita seperti makan dan minum, dan memenuhi
kebutuhan psikologis kita seperti sukses dan kebahagiaan. Komunikasi, dalam
konteks apapun, adalah bentuk dasar adaptasi terhadap lingkungan.
Melalui komunikasi kita juga bisa memenuhi kebutuhan
emosional kita dan meningkatkan kesehatan mental kita. Kita belajar makna
cinta, kasih sayang, keintiman, simpati, rasa hormat, kebanggaan, dan bahkan
iri hati, dan kebencian. Melalui komunikasi sosial, kita dapat mengalami
berbagai perasaan dan membandingkan kualitas perasaan satu dengan perasaan
orang lain.
Komunikasi
ekspresif sering dilakukan untuk menyampaikan perasaan-perasaan kita.
Kebanyakan komunikasi ini disampaikan dalam bentuk non verbal. Ungkapan kasih
sayang, marah, atau malu memang dapat disampaikan oleh kata-kata.
Namun,
paling besar dikomunikasikan lewat bahasa tubuh. Orang boleh mengatakan,
"saya tak marah", padahal mukanya merah, tampang cemberut, dan
pandangan matanya tajam. Orang akan lebih percaya bahasa non verbal itu
daripada bahasa verbalnya. Komunikasi ekspresif nanti tentu akan mempengaruhi
komunikasi sosial seseorang.
Fungsi
komunikasi ini berhubungan dengan komunikasi ekspresif. Namun bentuk
penyampaiannya seringkali secara kolektif. Misalnya upacara perkawinan, ritual
keagamaan, sampai memperingati tanggal bersejarah. Mereka yang terlibat dalam
komunikasi ritual dianggap berusaha menegaskan sebagai bagian dari kelompok
yang merayakannya. Komunikasi ritual juga dianggap sebagai komitmen individu
terhadap tradisi dalam kehidupan sosialnya.
Seseorang
yang baru masuk dalam lingkungan sosial baru cenderung harus melakukan
komunikasi ritual yang baru. Mereka seolah diwajibkan untuk melakukan
komunikasi ini untuk menunjukkan bahwa mereka memang siap dan akan bergabung
dalam lingkungan baru ini. Misalnya mahasiswa baru harus melakukan
"pengenalan" atau yang sering disebut ospek.
Selain
untuk komitmen emosional individu, komunikasi ritual juga sering digunakan
untuk mempererat kepaduan dalam suatu kelompok. Komunikasi ritual akan
menciptakan rasa nyaman dan perasaan tertib. Menurut Deddy Mulyana, bukan
substansi kegiatan ritual yang paling penting, namun perasaan senasib dan
sepenanggungan yang menyertai komunikasi ini.
Deddy
juga menganggap hal ini menandakan bahwa manusia bukanlah sepenuhnya makhluk
rasional. Karena komunikasi ritual sering dianggap mubazir jika ditimbang
secara rasio. Namun, manusia tetap membutuhkan komunikasi ritual, walau
tujuannya berbeda-beda. Misalnya, demi memenuhi kebutuhan jati diri, sebagai
anggota dari komunitas, atau menciptakan rasa kondusif dan tenteram.
Komunikasi yang berfungsi sebagai Komunikasi instrumental
adalah komunikasi yang berfungsi untuk memberitahukan atau menerangkan (to
inform) dan mengandung muatan persuasif dalam arti bahwa pembicara menginginkan
pendengarnya mempercayai bahwa fakta dan informasi yang disampaikan adalah
akurat dan layak untuk diketahui.
Dengan demikian fungsi komunikasi instrumental bertujuan
untuk menerangkan, mengajar, menginformasikan, mendorong, mengubah sikap dan
keyakinan, mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan, dan juga untuk
menghibur. Sebagai instrumen, komunikasi tidak saja kita gunakan untuk
menciptakan dan membangun hubungan, namun juga untuk menghancurkan hubungan tersebut.
Komunikasi berfungsi sebagai instrumen untuk mencapai
tujuan-tujuan pribadi dan pekerjaan, baik tujuan jangka pendek ataupun
tujuan jangka panjang. Tujuan jangka pendek misalnya untuk memperoleh pujian,
menumbuhkan kesan yang baik, memperoleh simpati, empati, keuntungan material,
ekonomi dan politik, yang antara lain dapat diraih dengan pengelolaan kesan
(impression management), yakni taktik-taktik verbal dan nonverbal, seperti
berbicara sopan, mengobral janji, dan sebagainya yang pada dasarnya untuk
menunjukkan kepada orang lain siapa diri kita seperti yang kita inginkan.
Sementara itu, tujuan jangka panjang dapat diraih lewat keahlian komunikasi,
misalnya keahlian berpidato, berunding, berbahasa asing ataupun keahlian
menulis. Kedua tujuan itu (jangka pendek dan panjang) tentu saja saling
berkaitan dalam arti bahwa pengelolaan kesan itu secara kumulatif dapat
digunakan untuk mencapai tujuan jangka panjang berupa keberhasilan dalam
karier, misalnya untuk memperoleh jabatan, kekuasaan, penghormatan sosial, dan kekayaan.
2.5 Prinsip Komunikasi Pembelajaran
1. Respect
Prinsip pertama dalam
mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap menghargai setiap individu
yang akan menjadi sasaran pesan yang di sampaikan. Guru dituntut dapat memahami
bahwa ia harus bisa menghargai setiap siswa yang dihadapinya. Rasa hormat
dan saling menghargai merupakan prinsip yang pertama dalam berkomunikasi dengan
orang lain karena pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting.
Membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati
akan dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi yang dapat
meningkatkan efektivitas kinerja guru baik sebagai individu maupun secara
keseluruhan sebagai tim.
Salah satu prinsip
paling dalam sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai. Penghargaan
terhadap individu adalah suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Ini adalah suatu
rasa lapar manusia yang tak terperikan dan tak tergoyahkan sehingga setiap
individu yang dapat memuaskan kelaparan hati tersebut akan menggenggam orang
dalam telapak tangannya. Selain itu penghargaan yang tulus terhadap individu
dapat membangkitkan antusiasme dan mendorong orang lain melakukan hal–hal
terbaik. Guru yang memberikan penghargaan secara tulus kepada para murid
maka akan dihargai pula oleh muridnya dan menjadikan proses belajar
mengajar menjadi sebuah proses yang menyenangkan bagi semua pihak.
2. Emphaty
Empati adalah kemampuan
kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh
orang lain. Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah
kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum
didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Dengan memahami dan mendengarkan
orang lain terlebih dahulu, kita dapat membangun keterbukaan dan kepercayaan
yang kita perlukan dalam membangun kerjasama atau sinergi dengan orang lain.
Rasa empati akan memampukan kita untuk
dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan
memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Komunikasi di dunia
pendidikan diperlukan saling memahami dan mengerti keberadaan, perilaku
dan keinginan dari siswa.
Rasa empati akan
menimbulakan respek atau penghargaan, dan rasa respek akan membangun
kepercayaan yang merupakan unsur utama dalam membangun sebuah suasana kondusif
di dalam proses belajar-mengajar. Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau
mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon
penerima pesan kita. Sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa
ada halangan psikologi atau penolakan dari penerima.
3.
Audible
Prinsip audible
berarti adalah dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Berbeda dengan prinsip
yang kedua yakni empati dimana guru harus mendengar terlebih dahulu ataupun
mampu menerima umpan balik dengan baik, maka audible adalah
menjamin bahwa pesan yang disampaikan dapat diterima oleh penerima pesan
dengan baik. Dalam rangka mencapai hal tersebut maka pesan harus di sampaikan
melalui media (delivery channel) sehingga dapat diterima dengan
baik oleh penerima pesan. Hal itu menuntut kemampuan guru dalam
menggunakan berbagai media maupun perlengkapan atau alat bantu audio-visual
yang dapat membantu supaya pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik
oleh para murid.
4. Clarity
Prinsip clarity adalah
kejelasan dari isi pesan supaya tidak menimbulkan multi interpretasi atau
berbagai macam penafsiran. Clarity dapat pula berarti
keterbukaan dan transparasi. Dalam berkomunikasi kita perlu mengembangkan sikap
terbuka (tidak ada yang ditutupi atau disembunyikan), sehingga dapat
menimbulkan rasa percaya (trust) dari penerima pesan.
Karena tanpa keterbukaan akan timbul
sikap saling curiga dan pada gilirannya akan menurunkan semangat dan antusiasme
siswa dalam proses belajar-mengajar. Dengan cara seperti ini siswa tidak akan
menganggap lagi proses belajar-mengajar sebagai formalitas tetapi akan
mengganggapnya sebagai sebuah kebutuhan pokok bagi kehidupannya.
5. Humble
Prinsip kelima dalam
membangun komunikasi yang efektif adalah sikap rendah hati. Sikap ini merupakan
unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang
lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Kerendahan
hati merupakan suatu cara agar orang lain merasa nyaman (care) karena ia
merasa sejajar sehingga memudahkan komunikasi dalam dua arah.
Komunikasi yang efektif
dalam proses pembelajaran sangat berdampak terhadap keberhasilan pencapaian
tujuan. Komunikasi dikatakan efektif apabila terdapat aliran informasi dua arah
antara komunikator dan komunikan dan informasi tersebut sama-sama direspon sesuai
dengan harapan kedua pelaku komunikasi tersebut. Jika dalam pembelajaran
terjadi komunikasi yang efektif antara pengajar dengan siswa, maka dapat
dipastikan bahwa pembelajaran tersebut berhasil. Sehubungan dengan hal
tersebut, maka para pengajar, pendidik, atau instruktur pada lembaga-lembaga
pendidikan atau pelatihan harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Kemampuan komunikasi yang dimaksud dapat berupa kemampuan memahami dan
mendesain informasi, memilih dan menggunakan saluran atau media, serta
kemampuan komunikasi antar pribadi dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran sebagai
subset dari proses pendidikan harus mampu memberikan kontribusi terhadap
peningkatan kualitas pendidikan, yang pada ujungnya akan berpengaruh terhadap
peningkatan kualitas sumber daya manusia. Agar pembelajaran dapat mendukung
peningkatan mutu pendidikan, maka dalam proses pembelajaran harus terjadi
komunikasi yang efektif, yang mampu memberikan kefahaman mendalam kepada
peserta didik atas pesan atau materi belajar.
Komunikasi dikatakan
efektif dalam pembelajaran apabila terdapat aliran informasi dua arah antara
pendidik dengan peserta didik dan informasi tersebut sama-sama direspon sesuai
dengan harapan kedua pelaku komunikasi tersebut. Setidaknya terdapat lima aspek
yang perlu dipahami dalam membangun komunikasi yang efektif (Abdul Majid,
2013), yaitu :
1. Kejelasan
Hal ini dimaksudkan
bahwa dalam komunikasi harus menggunakan bahasa dan mengemas informasi secara
jelas, sehingga mudah diterima dan dipahami oleh komunikan.
2. Ketepatan
Ketepatan atau akurasi
ini menyangkut penggunaan bahasa yang benar dan kebenaran informasi yang
disampaikan.
3. Konteks
Konteks atau sering disebut dengan
situasi, maksudnya adalah bahwa bahasa dan informasi yang disampaikan harus
sesuai dengan keadaan dan lingkungan dimana komunikasi itu terjadi.
4. Alur
Bahasa dan informasi yang akan disajikan
harus disusun dengan alur atau sistematika yang jelas, sehingga pihak yang
menerima informasi cepat tanggap.
5. Budaya
Aspek ini tidak saja menyangkut bahasa
dan informasi, tetapi juga berkaitan dengan tatakrama dan etika. Artinya dalam
berkomunikasi harus menyesuaikan dengan budaya orang yang diajak berkomunikasi
karena para peserta didik juga terlahir dari budaya yang berbeda, baik dalam
penggunaan bahasa verbal maupun nonverbal, agar tidak menimbulkan kesalahan
persepsi.
Menurut Santoso
Sastropoetro (Riyono Pratikno : 1987) berkomunkasi efektif berarti bahwa
komunikator dan komunikan sama-sama memiliki pengertian yang sama tentang suatu
pesan, atau sering disebut dengan “the communication is in tune”.
Agar komunikasi dapat
berjalan secara efektif, harus dipenuhi beberapa syarat :
1. menciptakan
suasana komunikasi yang menguntungkan
2. menggunakan
bahasa yang mudah ditangkap dan dimengerti
3. pesan
yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat bagi pihak komunikan
4. pesan
dapat menggugah kepentingan komunikan yang dapat menguntungkan
5. pesan
dapat menumbuhkan suatu penghargaan bagi pihak komunikan.
Terkait dengan proses
pembelajaran, komunikasi dikatakan efektif jika pesan yang dalam hal ini adalah
materi pelajaran dapat diterima dan dipahami, serta menimbulkan umpan balik
yang positif bagi siswa. Komunikasi efektif dalam pembelajaran harus didukung
dengan keterampilan komunikasi antar pribadi yang harus dimiliki oleh seorang
pendidik. Komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi yang berlangsung secara
informal antara dua orang individu. Komunikasi ini berlangsung dari hati ke
hati, karena diantara kedua belah pihak terdapat hubungan saling mempercayai.
Komunikasi antar pribadi akan berlangsung efektif apabila pihak yang
berkomunikasi menguasai keterampilan komunikasi antar pribadi.
Dalam kegiatan
pembelajaran, komunikasi antar pribadi merupakan suatu keharusan, agar terjadi
hubungan yang harmonis antara pengajar dengan peserta belajar. Keefektifan
komunikasi dalam kegiatan pembelajaran ini sangat tergantung dari kedua belah
pihak. Akan tetapi karena pengajar yang memegang kendali kelas, maka tanggung
jawab terjadinya komunikasi dalam kelas yang sehat dan efektif terletak pada
tangan pengajar. Keberhasilan pengajar dalam mengemban tanggung jawab tersebut
dipengaruhi oleh keterampilannya dalam melakukan
komunikasi ini.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan.
1. Komunikasi
pembelajaran adalah proses penyampaian gagasan dari seseorang kepada orang lain
supaya mencapai keberhasilan dalam mengirim pesan kepada yang dituju secara
efektif dan efisien dalam proses belajar mengajar.
2. Menurut
William I.Gordon, Komunikasi Pembelajaran mempunyai empat fungsi menurut
kerangka yang dikemukakan, yakni: fungsi komunikasi sosial, komunikasi
ekspresif, komunikasi ritual dan fungsi komunikasi instrumental.
3. Prinsip
komunikasi ada 5, yaitu : respect, emphaty, audible, clarity, humble.
Komunikasi yang efektif dalam proses pembelajaran sangat berdampak terhadap
keberhasilan pencapaian tujuan. Komunikasi dikatakan efektif apabila terdapat
aliran informasi dua arah antara komunikator dan komunikan dan informasi
tersebut sama-sama direspon sesuai dengan harapan kedua pelaku komunikasi
tersebut.
3.2 Saran
1. Para
pengajar, pendidik, atau instruktur pada lembaga-lembaga pendidikan atau
pelatihan harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Kemampuan komunikasi
yang dimaksud dapat berupa kemampuan memahami dan mendesain informasi, memilih
dan menggunakan saluran atau media, serta kemampuan komunikasi antar pribadi
dalam proses pembelajaran.
2. Diharapkan
agar mahasiswa khusunya pendidik dapat lebih mengetahui dan memahami peranan
media pendidikan dalam proses komunikasi pembelajaran yang ada. Sehingga
setelah mempelajari pembahasan ini, kita mampu mengefektifkan proses komunikasi
dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan dari pembelajaran itu sendiri.
3. Agar
pembelajaran dapat mendukung peningkatan mutu pendidikan, maka dalam proses
pembelajaran harus terjadi komunikasi yang efektif, yang mampu memberikan
kefahaman mendalam kepada peserta didik atas pesan atau materi belajar.
4. Untuk
membangun komunikasi efektif seseorang harus memiliki karakter yang kokoh yang
dibangun dari integritas pribadi yang kuat, karena seorang pendidik menjadi
factor yang terus disorot oleh siswa, oleh karena itu apabila Anda seorang
pendidik diharapkan bisa menjadi teladan yang baik bagi siswa dalam setiap
perilakunya.
DAFTAR PUSTAKA
Adang
H, Darmajari, Arip S (2012). Metodologi pembelajaran kajian teoritis
praktis.LP3G (Lembaga Pembinaan dan Pengembangan
Profesi guru) Banten.
http://sitiyuliana91.blogspot.com/
Didi
S, Deni D (2012), Komunikasi Pembelajaran. PT Remaja Rosda
Karya Bandung
Syaiful
Sagala (2005), Konsep dan Makna Pembelajaran, Alfabeta
Bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar