Menurut
Gestalt, Prinsip belajar adalah suatu transfer belajar antara
pendidik dan peserta didik sehingga mengalami perkembangan dari proses
interaksi belajar mengajar yang dilakukan secara terus menerus dan diharapkan
peserta didik akan mampu menghadapi permasalahan dengan sendirinya melalui
teori-teori dan pengalaman-pengalaman yang sudah diterimanya.
Robert H
Davie, Suatu
komunikasi terbuka antara pendidik dengan peserta didik sehingga peserta
didik termotivasi belajar yang bermanfaat bagi dirinya melalui
contoh-contoh dan kegiatan praktek yang diberikan pendidik lewat metode
yang menyenangkan peserta didik.
Berdasarkan Pendapat para Ahli, disimpulkan bahwa Prinsip Belajar
adalah landasan berpikir, landasan berpijak, dan sumber motivasi agar Proses
Belajar dan Pembelajaran dapat berjalan dengan baik antara pendidik dengan
peserta didik.
1. Prinsip-Prinsip Belajar
a. Perhatian dan Motivasi
Perhatian mempunyai peranan yang
penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi
terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage dan
Barliner, 1984: 335). Perhatian terhadap belajar akan timbul pada siswa apabila
bahan belajar sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan
sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau
diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk
mempelajarinya.
Motivasi mempunyai kaitan yang erat
dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu
cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk
mempelajari bidang studi tersebut. Motivasi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai
yang dianggap penting dalam kehidupannya. Perubahan nilai-nilai yang dianut
akan mengubah tingkah laku manusia dan motivasinya. Sikap siswa, seperti halnya
motif menimbulkan dan mengarahkan aktivitasnya. Intensif, suatu hadiah yang
diharapkan diperoleh sesudah melakukan kegiatan, dapat menimbulkan motif.
Motivasi dapat bersifat internal,
artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni datang
dari orang lain, dari guru, orang tua, teman, dsb. Motivasi juga dibedakan
atas:
·
Motif
instrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan.
Motif ini dapat bersifat internal (datang dari diri sendiri) dan dapat juga
bersifat eksternal (datang dari luar).
·
Motif
ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya
tetapi menjadi penyertanya. Sebagai contoh, siswa belajar sungguh-sungguh bukan
disebabkan ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya tetapi didorong oleh
keinginan naik kelas atau mendapatkan ijazah. Motif ini bisa bersifat internal
maupun eksternal, walaupun lebih banyak bersifat eksternal. Motif ekstrinsik
dapat berubah menjadi motif instrinsik yang disebut “transformatif motif”.
Contohnya, seorang siswa belajar di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan
(LPTK) karena menuruti keinginan orang tuanya yang menginginkan anaknya menjadi
guru. Mula-mula, motifnya adalah ekstrinsik, yaitu ingin menyenangkan orang
tuanya, tetapi setelah belajar beberapa lama di LPTK ia menyenangi pelajaran-pelajaran
yang digelutinya dan senang belajar untuk menjadi guru.
b. Keaktifan
Kecenderungan psikologi dewasa ini
menganggap bahwa anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk
berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa
dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain.
Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri, maka
inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sekadar pembimbing dan pengarah
(John Dewey 1916, dalam Davies, 1937: 31).
Menurut teori kognitif, belajar
menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi yang kita
terima, tidak sekadar menyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi. (Gage
and Barliner 1984: 267). Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif,
konstruktif, dan mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu mencari, menemukan, dan
menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Dalam proses belajar mengajar
anak mampu mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta,
menganalisis, menafsirkan, dan menarik kesimpulan. Tromdike mengemukakan
keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum “law of exercise”-nya yang
menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya latihan-latihan. Mc Keachie
berkenaan dengan prinsip keaktifan mengemukakan bahwa individu merupakan
“manusia belajar yang aktif selalu ingin tahu, sosial” (Mc Keachie, 1976: 230
dari Gledler MEB terjemahan Munandir, 1991: 105).
Dalam setiap proses belajar, siswa
selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai
dari kegiatan fisik yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis yang susah
diamati. Kegiatan fisik dapat berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih
keterampilan-keterampilan, dsb. Contoh kegiatan psikis misalnya menggunakan
khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi,
membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan, dan
kegiatan psikis yang lain.
c. Keterlibatan Langsung/Berpengalaman
Edgar Dale dalam penggolongan
pengalaman belajar yang dituangkan dalam kerucut pengalamannya mengemukakan
bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung.
Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekadar mengamati cara
langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan
bertanggung jawab terhadap hasilnya. Contohnya, seseorang yang belajar membuat
tempe, yang paling baik apabila ia terlibat secara langsung dalam pembuatan
(direct performance), bukan sekadar melihat bagaimana orang membuat tempe
(demonstrating), apalagi sekadar mendengan orang bercerita bagaimana cara
pembuatan tempe (telling). Pentingnya keterlibatan langsung dalam belajar
dikemukakan oleh John Dewey dengan “learning by doing”-nya. Belajar sebaiknya
dialami melalui perbuatan langsung. Belajar harus dilakukan oleh siswa secara
aktif, baik individual maupun kelompok, dengan cara memecahkan masalah (problem
solving). Guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator.
Keterlibatan siswa di dalam belajar
jangan diartikan keterlibatan fisik semata, namun lebih dari itu terutama
adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif
dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan, dalam penghayatan dan internalisasi
nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai, dan juga pada saat mengadakan
latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan.
d. Pegulangan
·
Menurut
teori “psikologi daya” belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia
yang terdiri atas daya pengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan,
berfikir, dsb. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan
berkembang.
·
Teori
“psikologi asosiasi (koneksionisme)” dengan tokohnya yang terkenal Tromdike.
Berangkat dari salah satu hukum belajarnya “law of exercise”, ia mengemukkan
bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respon, dan
pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu membesar peluang timbulnya
respon benar.
·
Psikologi
coditioning yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari koeksionisme juga
menekankan pentingnya pengulangan dalam belajar. Pada psikologis conditioning
respons akan timbul bukan karena saja oleh stimulus, tetapi juga oleh stimulus
yang dikondisikan. Menurut teori ini perilaku individu dapat dikondisikan, dan
belajar merupakan upaya untuk mengkondisikan suatu perilaku atau respons
terhadap sesuatu. Mengajar adalah membentuk kebiasaan, mengulang-ulang sesuatu
perbuatan sehingga menjadi suatu kebiasaan dan pembiasaan tidak perlu selalu
oleh stimulus yang sesungguhnya, tetapi dapat juga oleh stimulus penyerta.
e. Tantangan
Teori Medan (Field Theory) dari Kurt
Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam situasi belajar berada dalam suatu medan
atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan
yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan
belajar, maka timbulah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan
mempelajari bahan belajar terebut. Agar pada anak timbul motif yang kuat untuk
mengatasi hambatan dengan baik maka bahan belajar haruslah menantang. Tantangan
yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya.
Bahan belajar yang baru, banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan
membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya. Pelajaran yang memberi
kesempatan pada siswa untuk menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan
generalisasi akan menyebabkan siswa berusaha mencari dan menemukan
konsep-konsep, prinsip-prisip, dan generalisasi tersebut.
Penggunaan metode eksperimen,
inkuiri, diskoveri juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar secara
lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan positif maupun negatif juga akan
menantang siswa dan menimbulkan motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar
dari hukum yang tidak menyenangkan.
f. Balikan dan Penguatan
Teori belajar “Operant Conditioning”
dari B. F. Skiner. Pada operant conditioning yang diperkuat adalah responsnya.
Kunci dari teori belajar ini adalah law of effect-nya Tromdike. Siswa akan
belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik.
Namun dorongan belajar itu menurut B. F. Skinner tidak saja boleh penguatan
yang menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan. Atau dengan kata lain
penguatan positif maupun negatif dapat memperkuat belajar (Gage dan Barliner,
1984: 272).
Siswa belajar sunggguh-sungguh dan
mendapatkan nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu mendorong anak
untuk belajar lebih giat lagi. Sebaliknya, anak yang mendapatkan nilai yang
jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas, karena takut tidak
naik kelas ia terdorong untuk belajar lebih giat. Disini siswa mencoba
menghindar dari peristiwa yang tidak menyenangkan, maka penguatan negatif juga
disebut “escape conditioning”. Format sajian berupa tanya jawab, diskusi, eksperiment,
metode penemuan, dsb merupakan cara belajar mengajar yang memungkinkan
terjadinya balikan penguatan.
g. Perbedaan Individual
Siswa merupakan individual yang unik
artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki
perbedaan satu dengan yang lain. perbedaan itu terdapat pada karakteristik
psikis, kepribadian, dan sifat-sifatnya. Perbedaan individual ini berpengaruh
pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individu perlu
diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran. Sistem pendidikan klasikal
yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan
individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa
sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama,
demikian pula dengan pengetahuannya. Pembelajaran yang bersifat klasikal yang
mengabaikan individual dapat diperbaiki dengan beberapa cara antara lain:
·
Penggunaan
metode atau strategi belajar mengajar yang bervariasi sehingga
perbedaan-perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani
·
Menggunakan
media intruksional akan membantu melayani perbedaan-perbedaan siswa dalam cara
belajar.
·
Dengan
memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi siswa yang pandai,
dan memberikan bimbingan belajar bagi anak-anak yang kurang.
Disamping itu dalam memberikan
tugas-tugas hendaknya disesuaikan dengan minat dan kemampuan siswa sehingga
bagi siswa yang pandai, sedang, maupun kurang akan merasakan berhasil di dalam
belajar. Sebagai unsur primer dan sekunder dalam pembelajaran, maka dengan
sendirinya siswa dan guru terimplikasi adanya prinsip-prinsip belajar.
Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tampak dalam setiap
kegiatan perilaku mereka selama proses pembelajaran berlangsung.
2. Impikasi
Prinsip-Prinsip Belajar bagi Siswa
Siswa sebagai “primus motor” (motor
utama) dalam kegiatan pembelajaran, dengan alasan apa pun tidak dapat
mengabaikan begitu saja adanya prinsip-prinsip belajar. Justru para siswa akan
berhasil dalam pembelajaran, jika mereka menyadari implikasi prinsip-prinsip
belajar dalam diri mereka.
a. Perhatian dan Motivasi
b. Keaktifan
c. Keterlibatan langsung/berpengalaman
d. Pengulangan
e. Tantangan
f. Balikan dan penguatan
g. Perbedaan individual
3. Implikasi
Prinsip-Prinsip Belajar bagi Guru
Implikasi prinsip-prinsip belajar
bagi guru tertampak pada rencana pembelajaran maupun pelaksanaan kegiatan
pembelajarannya. Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi guru terwujud dalam
perilaku fisik dan psikis mereka. Kesadaran adanya prinsip-prinsip belajar yang
terwujud dalam perilaku guru, dapat diharapkan adanya peningkatan kualitas
pembelajaran yang diselenggarakan.
a. Perhatian dan motivasi
Implikasi prinsip perhatian bagi guru tertampak pada
perilaku-perilaku sebagai berikut:
· Guru menggunakan metode secara
bervariasi
· Guru mengggunakan media sesuai
dengan tujuan belajar dan materi yang diajarkan
· Guru menggunakan gaya bahasa yang
tidak monoton
· Guru menggunakan pertanyaan-pertanyaan
membimbing (direction question).
Sedangkan implikasi prinsip motivasi bagi guru tertampak
pada perilaku-perilaku yang diantaranya adalah:
· Memilih bahan ajar sesuai dengan
minat siswa
· Menggunakan metode dan teknik mengajar
yang disukai siswa
· Mengoreksi sesegera mungkin
pekerjaan siswa dan sesegera mungkin memberitahukan hasilnya kepada siswa
· Memberikan pujian verbal atau
non-verbal terhadap siswa yang memberikan respons terhadap pertanyaan yang
diberikan
· Memberitahukan nilai guna dari
pelajaran yang sedang dipelajari siswa
b. Keaktifan
Peran guru mengorganisasikan
kesempatan belajar bagi masing-masing siswa berarti mengubah peran guru dari
bersifat didaktis menjadi lebih bersifat mengindividualis, yaitu menjamin bahwa
setiap siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan di dalam kondisi yang ada
(Sten, 1988: 224). Hal ini berarti pula bahwa kesempatan yang diberikan oleh
guru akan menuntut siswa untuk aktif mencari, memperoleh, dan mengolah perolehan
belajarnya. Untuk dapat menimbulkan keaktifan belajar pada diri siswa, maka
guru diantaranya dapat melaksanakan perilaku-perilaku berikut:
· Menggunakan multimetode dan
multimedia
· Memberikan tugas secara individual
dan kelompok
· Memberikan kesempatan pada siswa
melaksanakan eksperimen dalam kelompok kecil (beranggota tidak lebih dari 3
orang)
· Memberikan tugas untuk membaca bahan
belajar, mencatat hal-hal yangkurang jelas
· Mengadakan tanya jawab dan diskusi
c. Keterlibatan langsung/berpengalaman
Perlu diingat bahwa keterlibatan
langsung secara fisik tidak menjamin keefektifan belajar. Untuk dapat
melibatkan siswa secara fisik, mental emosional, dan intelektual dalam kegiatan
pembelajaran, maka guru hendaknya merancang dan melaksanakan kegiatan
pembelajaran dengan mempertimbangkan karakteristik siswa dan karakteristik isi
pelajaran. Perilaku sebagai implikasi prinsip keterlibatan
langsung/berpengalaman diantaranya adalah:
· Merancang kegiatan pembelajaran yang
lebih banyak pada pembelajaran individual dan kelompok kecil
· Mementingkan eksperimen langsung
oleh siswa dibandingkan dengan demonstrasi
· Menggunakan media yang langsung
digunakan oleh siswa
· Memberikan tugas kepada siswa untuk
mempraktekkan gerakan psikomotorik yang dicontohkan
· Melibatkan siswa mencari
informasi/pesan dari sumber informasi di luar kelas atau luar sekolah
· Melibatkan siswa dalam merangkum
atau menyimpulkan informasi pesan pembelajaran
Implikasi lain dari keterlibatan
langsung/berpengalaman bagi guru adalah kemampuan guru untuk bertindak sebagai
manager/pengelola kegiatan pembelajaran yang mampu mengarahkan, membimbing, dan
mendorong siswa ke arah tujuan pengajaran yang ditetapkan.
d. Pengulangan
Implikasi prinsip pengulangan bagi
guru adalah mampu memilihkan antara kegiatan pembelajaran yang berisi pesan
yang menumbuhkan pengulangan dengan yang tidak membutuhkan pengulangan.
Pengulangan terutama dibutuhkan oleh pesan-pesan pembelajaran yang harus dihafalkan
secara tetap tanpa ada kesalahan sedikit pun. Perilaku guru yang merupakan
implikasi prinsip pengulangan diantaranya adalah:
· Merancang pelaksanaan pengulangan
· Mengembangkan/merumuskan soal-soal
latihan
· Mengembangkan petunjuk kegiatan
psikomotorik yang harus diulang
· Mengembangkan alat evaluasi kegiatan
pengulangan,
· Membuat kegiatan pengulangan yang
bervariasi
e. Tantangan
Tantangan dalam kegiatan
pembelajaran dapat diwujudkan oleh guru melalui bentuk kegiatan, bahan, dan
alat pembelajaran yang dipilih untuk kegiatan pembelajaran. Perilaku guru yang
merupakan implikasi prinsip tantangan diantaranya adalah:
· Merancang dan mengelola kegiatan
eksperimen yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukannya secara
individual atau dalam kelompok kecil (3-4 orang)
· Memberikan tugas pada siswa
memecahkan masalah yang memebutuhkan informasi dari orang lain di luar sekolah
sebagai sumber informasi
· Menugaskan kepada siswa untuk
menyimpulkan isi pelajaran yang selesai disajikan
· Mengembangkan bahan pembelajaran
(teks, hand out, modul, dsb) yang memperhatikan kebutuhan siswa untuk
mendapatkan tantangan didalamnya, sehingga tidak harus semua pesan pembelajaran
disajikan secara detail tanpa memberikan kesempatan siswa mencari dari sumber
lain
· Membimbing siswa untuk menemukan
fakta, konsep, prinsip, dan generalisasi sendiri
· Guru merancang dan mengelola
kegiatan diskusi untuk menyelenggarakan masalah-masalah yang disajikan dalam
topik diskusi
e. Balikan dan penguatan
Balikan dapat diberikan secara lisan
maupun tertulis, baik secara individual, ataupun kelompok klasikal. Agar
balikan dan penguatan bermakna bagi siswa, guru hendaknya memperhatikan
karakteristik siswa. Implikasi prinsip balikan dan penguatan bagi guru,
berwujud perilaku-perilaku yang diantaranya adalah:
· Memberitahukan jawaban yang benar
setiap kali mengajukan pertanyaan yang telah dijawab siswa secara benar ataupun
salah
· Mengoreksi pembahasan pekerjaan rumah
yang diberikan kepada siswa pada waktu yang telah ditentukan
· Memberikan catatan-catatan pada
hasil kerja siswa (berupa makalah, laporan, kliping pekerjaan rumah),
berdasarkan hasil koreksi guru terhadap hasil jerja pembelajaran
· Membagikan lembar kerja tes
pelajaran yang telah dikoreksi oleh guru, disertai skor dan catatan-catatan
bagi pelajar
· Mengumumkan atau menginformasikan
peringkat yang diraih oleh siswa berdasarkan skor yang dicapai dalam tes
· Memberikan angkutan atau acungan
jempol atau isyarat lain kepada siswa yang menjawab dengan benar pertanyaan
yang disajikan guru
· Memberikan hadiah/ganjaran kepada
siswa yang berhasil menyelesaikan tugas
f. Perbedaan individual
Guru sebagai penyelenggara kegiatan
pembelajaran dituntut untuk memberikan perhatian kepada semua keunikan yang
melekat pada setiap siswa. Konsekuensi logis adanya hal ini, guru harus mampu
melayani setiap siswa sesuai karakteristik mereka orang per orang. Implikasi
prinsip perbedaan individual bagi guru berwujud perilaku-perilaku yang
diantaranya adalah:
· Menentukan penggunaan berbagai
metode yang diharapkan dapat melayani kebutuhan siswa sesuai karakteristiknya
· Merancang pemanfaatan berbagai media
dalam menyajikan pesan pembelajaran
· Mengenali karakteristik setiap siswa
sehingga dapat menentukan perlakuan pembelajaran yang tepat bagi siswa yang
berangkutan
· Memberikan remediasi ataupun
pertanyaan kepada siswa yang membutuhkan
4. Asas-Asas Pembelajaran
Ada 14 asas pembelajaran yang dapat
digunakan sebagai dasar untuk pengembangkan program pembelajaran inovatif.
Keempat belas asas tersebut adalah:
1. Lima prinsip dasar dalam pemenuhan
hak anak: (a) non-diskriminasi, (b) kepentingan terbaik bagi anak (best
interests of the child), (c) hak untuk hidup dan berkembang (right to
life, continuity of life and to develop), (d) hak atas
perlindungan (right to protection), (e) penghargaan terhadap pendapat
anak (respect for the opinions of children).
2. Belajar bukanlah konsekuensi
otomatis dari penuangan informasi ke dalam benak siswa.
3. Belajar memerlukan keterlibatan
mental dan kerja siswa sendiri.
4. Yang bisa membuahkan hasil belajar
yang langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif.
5. Untuk bisa mempelajari sesuatu
dengan baik, kita perlu mendengar, melihat, mengajukan pertanyaan, dan
membahasnya dengan orang lain.
6. Aktivitas pembelajaran pada diri
siswa bercirikan: (a) yang saya dengar, saya lupa; (b) yang saya
dengar dan lihat, saya sedikit ingat; (c) yang saya dengar, lihat,
danpertanyakan atau diskusikan dengan orang lain,
saya mulai pahami; (d) yang saya dengar, lihat, bahas, dan terapkan,
saya dapatkan pengetahuan dan keterampilan; dan (e) yang saya ajarkan kepada
orang lain, saya kuasai.
7. John Holt (1967) proses belajar akan
meningkat jika siswa diminta untuk melakukan hal-hal: (a) mengemukakan kembali
informasi dengan kata-kata sendiri, (b) memberikan contoh, (c) mengenalinya
dalam bermacam bentuk dan situasi, (d) melihat kaitan antara informasi itu
dengan fakta atau gagasan lain, (e) menggunakannya dengan beragam cara, (f)
memprediksikan sejumlah konsekuensinya, (g) menyebuitkan lawan atau
kebalikannya.
8. Ada 9 konteks yang melingkupi siswa
dalam belajar: (a) tujuan, (b) isi materi, (c)sumber
belajar (sumber belajar bagaimanakah yang dapat dimanfaatkan), (d)
target siswa (siapa yang akan belajar), (e) guru, (f) strategi pembelajaran,
(g) hasil (bagaimana hasil pembelajaran akan diukur), (h)
kematangan (apakah siswa telah siap dengan hadirnya sebuah konsep atau
pengetahuan), (i) lingkungan (dalam lingkungan yang bagaimana
siswa belajar).
9. Kata kunci pembelajaran agar
bermakna: (a) real-world learning, (b) mengutamakan pengalaman
nyata, (c) berpikir tingkat tinggi, (d) berpusat pada siswa, (e) siswa aktif,
kritis, dan kreatif, (f) pengetahuan bermakna dalam kehidupan, (g) dekat dengan
kehidupan nyata, (h) perubahan perilaku, (i) siswa praktik, bukan menghafal,
(j) learning, bukan teaching, (k) pendidikan bukan
pengajaran, (l) pembentukan manusia, (m) memecahkan masalah, (n) siswa acting,
guru mengarahkan, (o) hasil belajar diukur dengan berbagai cara bukan hanya
dengan tes.
10. Pembelajaran yang memperhatikan dimensi auditori dan visual,
pesan yang diberikan akan menjadi lebih kuat.
11. Otak tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga
mengolahnya melalui membahas informasi dengan orang lain dan juga mengajukan
pertanyaan tentang hal yang dibahas.
12. Otak kita perlu mengaitkan antara apa yang diajarkan kepada
kita dengan apa yang telah kita ketahui dan dengan cara kita berpikir.
13. Proses belajar harus mengakomodasi tipe-tipe belajar siswa
(auditori, visual, kinestetik)
14. Resiprositas (kebutuhan mendalam manusia untuk merespon
orang lain dan untuk bekerja sama) merupakan sumber motivasi yang bisa
dimanfaatkan untuk menstimulasi kegiatan belajar.
DSumber: http://novittralala.blogspot.com/2016/05/prinsip-prinsip-belajar-dan-asas.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar